IslamSejarah

Dayah Teungku Chik Tanoh Abee- Dayah Tertua di Aceh

Dayah Teungku Chik Tanoh Abee- Dayah Tertua di Aceh

Dayah Teungku Chik Tanoh Abee- Dayah Tertua di Aceh– Dayah Teungku Chik Tanoh Abee merupakan salah satu dayah tertua di Aceh yang didirikan oleh seorang cendekiawan dari Baghdad, Fairus Al Bagdadi, Dayah ini didirikan pada masa Kesultanan Iskandar Muda pada 1625 TM. Dayah (Pesantren) Teungku Chik Tanoh Abee terletak di di Kecamatan Seulimuem, Kabupaten Aceh Besar, Propinsi Aceh, Dayah Teungku Chik Tanoh Abee merupakan Pesantren Islam tertua di Asia Tenggara.

Pada awalnya, Dayah Teungku Chik Tanoh Abee, hanya surau kecil di gampong Sigeupoh, sekitar empat kilometer dari lokasi Dayah Teungku Chik Tanoh Abee saat ini.

Dayah Teungku Chik Tanoh Abee Digunakan sebagai tempat untuk mempelajari ilmu keagamaan, dan juga digunakan sebagai tempat  bagi pelaksaan hukuman bagi masyarakat yang melanggar syariat Islam pada saat itu. Seiring berjalannya waktu, Dayah yang awalnya berada di data Sigeupoh, akhirnya pindah ke daerah desa warga.

Dayah yang telah mampu mencetak berbagai macam siswa yang tersebar di berbagai sudut ini pernah dipimpin oleh sejumlah ulama lain setelah pendiri kembali ke masa lalu. Namun Dayah Teungku Chik Tanoh Abee mencapai puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Syeikh Abdul Wahab, yang lebih dikenal dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee. Jadi, dayah dikenal sebagai Dayah Teungku Chik di Tanoh Abee.

Sebagai tempat untuk pendirian tokoh ulama, Ketua Teungku Chik Tanoh Abee, saat ini juga merupakan tempat di mana para ulama Aceh telah berkumpul seperti Teungku Chik di Tiro dan beberapa ulama lainnya untuk melakukan musyawarah dan mengatur strategi terhadap kolonial Belanda.

Dayah Teungku Chik Tanoh Abee- Dayah Tertua di Aceh
Dayah Teungku Chik Tanoh Abee- Dayah Tertua di Aceh

Dari Syekh Abdul Wahab, Dayah Teungku Chik Tanoh Abee diteruskan kepada Syekh Muhammad Sa’id. Dari Muhammad Sa’id, pesantren ini dikelola oleh Syeikh Muhammad Husen, kemudian Teungku Muhammad Ali. Sampai saat itu ia jatuh ke tangan Teungku Muhammad Dahlan atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Dahlan Tanoh Abee.

Selama kepemimpinan abu Dahlan, tepatnya dari 1984 sampai 2007, Dayah Teungku Chik Tanoh Abee kembali mencapai puncak kesuksesan. Ribuan siswa dari berbagai penjuru belajar ilmu agama di dalam Dayah. Tidak sedikit siswa Dayah Tgk. Chik Tanoh Abee yang telah mendirikan pesantren sebagai wadah yang memanfaatkan pengetahuan yang didapat.

Setelah kematian abu Dahlan pada 2007, Dayah Teungku Chik Tanoh Abee dikendalikan oleh istri atau murid-muridnya. Jadi, orang berbicara di sana sering menyebutnya “Ummi “. Dalam mengelola Dayah, Ummi dibantu oleh putranya, Teungku Ridwan Tanoh Abee.

Tgk. Haji Muhammad Dahlan Al-Fairusi Al-Bagdadi yang mendirikan Dayah Tanoh Abee pada tahun 1627 Masehi. Ia adalah Ulama generasi kesembilan dari keturunan langsung Syech Fairus. Syech Fairus sendiri adalah seorang sarjana Sunni yang memiliki asal-usul Baghdad dan menjadi pengembang Islam di Aceh melalui Tarekat Shattariyyah.

Dalam konteks perkembangan tarekat Shattariyyah di Aceh secara keseluruhan, Alur silsilah yang dikembangkan oleh Syech Fairus adalah unik karena tidak melalui Syech Abdurrauf bin Ali Al-Fansury — yang dianggap sebagai Khalifah utama Tarekat Shattariyyah di Aceh khususnya dan di dunia Melayu-Indonesia pada umumnya.

Dalam naskah Shattariyyah oleh Teungku Muhammad Ali, yang merupakan kebiasaan abu Dahlan yang menyebutkan, abu Dahlan mengambil Bai’at Shattariyyah dari Syech Abdul Wahab dan kemudian memerintahkan Bai’at dari Syech Muhammad As’ad tahir, dari Syech Muhammad Said Tahir, dari Syech Mansur badiri, dari Syech mula Ibrahim Al-Kurani, dari Syech Ahmad Al-Qushashi, dan seterusnya kepada Nabi Muhammad SAW (Fakhriati 2006). Sebelum Syams mula Ibrahim Al-Kurani dan Syech Ahmad Al-Qushashi, nama Abdurrauf bin Ali Al-Jawi selalu disebutkan di hampir semua silsilah tarekat Shattariyyah yang ditemukan di dunia Melayu-Indonesia.

Sekarang, Abu Tanoh Abee telah tiada, tetapi beliau masih memiliki pesan bahwa ia berkata pada bulan Agustus 2005 kemudian: Khazanah naskah yang telah lama dipeliharanya seyogyanya dijaga bersama!

Tags
Show More
Below Article Ad

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker